Alhamdulillah,
banyak manusia yang menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara.
Mereka tahu bahwa mereka akan kembali ke kampung akhirat, sehingga mereka pun
melakukan usaha mengumpulkan bekal menuju akhirat.
Hanya saja,
di antara sekian banyak manusia yang sadar atau mengetahui akan hal ini, masih
ada saja yang hatinya tertawan dengan dunia dan perhiasannya. Sehingga,
seolah-olah dunia menjadi tujuan utama mereka, padahal mereka tahu dan sadar
bahwa mereka akan kembali ke akhirat. Memang mereka sudah melakukan usaha
berbekal menuju akhirat, namun karena mereka salah memosisikan akhirat terhadap
dunia, mereka tetap saja lebih mengutamakan dunia atas akhirat.
Sebagian
orang lain yang memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap khidupan akhirat
berusaha menjadikan akhirat seimbang (sama persis) dengan dunia. “Kita hidup
itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Dunia iya, akhirat juga iya,
fifty-fifty (50% – 50%)” demikian seolah-olah prinsip hidupnya berbicara.
Pembaca
yang dirahmati Allah, jika kita telah mengetahui tidak benarnya prinsip hidup
yang melebih utamakan dunia atas akhirat, lalu bagaimana dengan prinsip hidup
yang menyatakan dunia akhirat fifty-fifty?
Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang hidup di dunia juga
butuh kepada perkara-perkara duniawi. Seorang manusia tidak mungkin menghindari
perkara-perkara duniawi. Karena setiap manusia butuh kepada makanan, minuman,
pakaian, pemenuhan kebutuhan biologis dan hal-hal lain yang merupakan kebutuhan
manusia di dunia ini. Akan tetapi hakikat akan kebutuhan manusia ini tidak bisa
otomatis menjadi dasar disamakannya dunia dengan akhirat dalam satu derajat,
sehingga mudah saja mengatakan dunia akhirat fifty-fifty.
Seorang
berakal yang mampu membandingkan antara dua hal berbeda dan mampu menilai mana
yang lebih utama dari keduanya tentu akan lebih mengutamakan akhirat dari pada
dunia. Silahkan kita lihat bersama-sama perbedaan yang mencolok antara dunia
dan akhirat.
Dunia
adalah tempat yang sementara, sedangkan akhirat adalah tempat yang abadi. Allah
ta’ala berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ
أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ
الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ
اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ
شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
“Dan berilah perumpamaan kepada
mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari
langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian
tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah
Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Kahfi: 45)
Kenikmatan
dunia penuh dengan kekurangan, sedangkan kenikmatan akhirat adalah kenikmatan
yang sempurna. Tidakkah kita perhatikan, bahwa orang yang mendapatkan
kenikmatan di dunia pasti juga mendapatkan kesusahan baik sebelumnya, atau yang
menyertainya, atau mungkin yang datang setelahnya. Tidak ada satu pun
kenikmatan di dunia ini yang murni dari kesusahan. Adapun kenikmatan yang
diperoleh di akhirat adalah kenikmatan murni yang tidak diiringi sesuatu hal
yang dibenci.
Alangkah
indah perkataan Malik bin Dinar – rahimahullah
– , “Seandainya dunia terbuat dari emas yang hanya sementara sedangkan akhirat
terbuat dari tembikar namun dia abadi, maka yang sewajibnya adalah lebih
mengutamakan tembikar yang abadi dari pada emas yang sementara. Lalu bagaimana
lagi padahal akhirat adalah emas yang abadi sedangkan dunia adalah tembikar
yang sementara?!”
Terlebih
lagi jika kita menyadari bahwa dunia hanyalah bagaikan sebuah jalan, sedangkan
akhirat adalah tujuannya. Bukankah kita semua pasti meninggal dunia, dan akhirat
adalah kampung terakhir kita, tempat tinggal kita yang sesungguhnya, sedangkan
tempat kita di akhirat sangat tergantung dengan amalan kita di dunia ini. Oleh
karena itu Rasulullah l bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ
عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini
bagaikan orang asing atau bagaikan orang yang dalam perjalanan.”
(Riwayat al-Bukhari)
Dan kalau
kita menilik kepada nash-nash dalam al-Quran maupun hadits-hadits Nabi n dengan
tadabbur (perenungan) yang sebenar-benarnya, tentu saja kita tidak akan
mendapati dalil yang mendukung prinsip fifty-fifty untuk dunia akhirat.
Mengutamakan
akhirat dari dunia bukan berarti tidak mengambil urusan dunia sama sekali.
Bahkan dalam rangka mengutamakan akhirat ini, kita perlu mengambil dunia. Hanya
saja kita tidak mengambil dunia dengan berlebih-lebihan sehingga melalaikan
akhirat. Cukuplah kita ambil seperlunya yang kita butuhkan sebagaimana
kebutuhan seorang musafir dalam perjalanannya.
Dalam
Fathul Bari disebutkan bahwa hadits Nabi -
shallallahu ‘alaihi wa sallam - di atas mengisyaratkan agar kita
mengutamakan sikap zuhud terhadap dunia dan mengambil bekal dan kecukupan
darinya. Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa
menyampaikan kepada tujuan perjalanannya, maka demikian pula seorang mukmin di
dunia ini tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa menyampaikannya kepada
tujuan. Disebutkan pula bahwa hendaknya seorang mukmin memosisikan dirinya
sebagaimana orang asing (di negeri asing), sehingga hatinya tidak tertambat
pada sesuatu pun yang ada di negri asing itu, bahkan hatinya selalu tertambat
pada negri tempat kembalinya.
Untuk itu,
hendaknya dunia yang telah ada kita gunakan dalam perkara yang bisa bermanfaat
bagi akhirat kita, dan hendaknya kita memiliki niat yang baik untuk kehidupan
akhirat dalam berbagai urusan dunia kita.