Definisi Halal Haram dan Makruh

HALAL adalah sesuatu yang dengan nya terurailah buhul yang membahayakan dan alloh memperbolehkan untuk dikerjakan

Haram adalah sesuatu yang dilarang alloh untuk dilakukan dengan larangan yang tegas, setiap orang yang menentang akan mendapatkan siksaan kelak di akhirat.

Makruh yaitu allah melarang sesuatu namun larangan itu tidak keras, inilah yang dinamakan makruh (dibenci).

Haruskah Sama Antara Dunia dan Akhirat?




Alhamdulillah, banyak manusia yang menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Mereka tahu bahwa mereka akan kembali ke kampung akhirat, sehingga mereka pun melakukan usaha mengumpulkan bekal menuju akhirat.
Hanya saja, di antara sekian banyak manusia yang sadar atau mengetahui akan hal ini, masih ada saja yang hatinya tertawan dengan dunia dan perhiasannya. Sehingga, seolah-olah dunia menjadi tujuan utama mereka, padahal mereka tahu dan sadar bahwa mereka akan kembali ke akhirat. Memang mereka sudah melakukan usaha berbekal menuju akhirat, namun karena mereka salah memosisikan akhirat terhadap dunia, mereka tetap saja lebih mengutamakan dunia atas akhirat.
Sebagian orang lain yang memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap khidupan akhirat berusaha menjadikan akhirat seimbang (sama persis) dengan dunia. “Kita hidup itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Dunia iya, akhirat juga iya, fifty-fifty (50% – 50%)” demikian seolah-olah prinsip hidupnya berbicara.
Pembaca yang dirahmati Allah, jika kita telah mengetahui tidak benarnya prinsip hidup yang melebih utamakan dunia atas akhirat, lalu bagaimana dengan prinsip hidup yang menyatakan dunia akhirat fifty-fifty?
Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang hidup di dunia juga butuh kepada perkara-perkara duniawi. Seorang manusia tidak mungkin menghindari perkara-perkara duniawi. Karena setiap manusia butuh kepada makanan, minuman, pakaian, pemenuhan kebutuhan biologis dan hal-hal lain yang merupakan kebutuhan manusia di dunia ini. Akan tetapi hakikat akan kebutuhan manusia ini tidak bisa otomatis menjadi dasar disamakannya dunia dengan akhirat dalam satu derajat, sehingga mudah saja mengatakan dunia akhirat fifty-fifty.
Seorang berakal yang mampu membandingkan antara dua hal berbeda dan mampu menilai mana yang lebih utama dari keduanya tentu akan lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia. Silahkan kita lihat bersama-sama perbedaan yang mencolok antara dunia dan akhirat.
Dunia adalah tempat yang sementara, sedangkan akhirat adalah tempat yang abadi. Allah ta’ala berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Kahfi: 45)
Kenikmatan dunia penuh dengan kekurangan, sedangkan kenikmatan akhirat adalah kenikmatan yang sempurna. Tidakkah kita perhatikan, bahwa orang yang mendapatkan kenikmatan di dunia pasti juga mendapatkan kesusahan baik sebelumnya, atau yang menyertainya, atau mungkin yang datang setelahnya. Tidak ada satu pun kenikmatan di dunia ini yang murni dari kesusahan. Adapun kenikmatan yang diperoleh di akhirat adalah kenikmatan murni yang tidak diiringi sesuatu hal yang dibenci.
Alangkah indah perkataan Malik bin Dinar – rahimahullah – , “Seandainya dunia terbuat dari emas yang hanya sementara sedangkan akhirat terbuat dari tembikar namun dia abadi, maka yang sewajibnya adalah lebih mengutamakan tembikar yang abadi dari pada emas yang sementara. Lalu bagaimana lagi padahal akhirat adalah emas yang abadi sedangkan dunia adalah tembikar yang sementara?!”
Terlebih lagi jika kita menyadari bahwa dunia hanyalah bagaikan sebuah jalan, sedangkan akhirat adalah tujuannya. Bukankah kita semua pasti meninggal dunia, dan akhirat adalah kampung terakhir kita, tempat tinggal kita yang sesungguhnya, sedangkan tempat kita di akhirat sangat tergantung dengan amalan kita di dunia ini. Oleh karena itu Rasulullah l bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini bagaikan orang asing atau bagaikan orang yang dalam perjalanan.” (Riwayat al-Bukhari)
Dan kalau kita menilik kepada nash-nash dalam al-Quran maupun hadits-hadits Nabi n dengan tadabbur (perenungan) yang sebenar-benarnya, tentu saja kita tidak akan mendapati dalil yang mendukung prinsip fifty-fifty untuk dunia akhirat.
Mengutamakan akhirat dari dunia bukan berarti tidak mengambil urusan dunia sama sekali. Bahkan dalam rangka mengutamakan akhirat ini, kita perlu mengambil dunia. Hanya saja kita tidak mengambil dunia dengan berlebih-lebihan sehingga melalaikan akhirat. Cukuplah kita ambil seperlunya yang kita butuhkan sebagaimana kebutuhan seorang musafir dalam perjalanannya.
Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa hadits Nabi - shallallahu ‘alaihi wa sallam - di atas mengisyaratkan agar kita mengutamakan sikap zuhud terhadap dunia dan mengambil bekal dan kecukupan darinya. Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa menyampaikan kepada tujuan perjalanannya, maka demikian pula seorang mukmin di dunia ini tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa menyampaikannya kepada tujuan. Disebutkan pula bahwa hendaknya seorang mukmin memosisikan dirinya sebagaimana orang asing (di negeri asing), sehingga hatinya tidak tertambat pada sesuatu pun yang ada di negri asing itu, bahkan hatinya selalu tertambat pada negri tempat kembalinya.
Untuk itu, hendaknya dunia yang telah ada kita gunakan dalam perkara yang bisa bermanfaat bagi akhirat kita, dan hendaknya kita memiliki niat yang baik untuk kehidupan akhirat dalam berbagai urusan dunia kita.

Dahulukan Ilmu sebelum Amal






SESEORANG tidak akan bisa melakukan dengan benar beragam perbuatan wajib, menjauhi perbuatan haram, kemaksiatan, melaksanakan amalan-amalan sunnah, kecuali dengan dasar ilmu. Ilmu menjadi landasan seseorang untuk melaksanakan kewajiban, meninggalkan larangan dan menjauhi kemaksiatan sekaligus mengupayakan mengerjakan sunnah-sunnah dimana semua itu dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Itulah sebabnya, mencari ilmu merupakan sebuah kewajiban. Tidak boleh dipandang sebelah mata, diremehkan atau tidak diacuhkan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Mengapa wajib? Imam Abdullah menjawab, “Dengan ilmu kita bisa mengetahui bahwa yang wajib adalah wajib, yang sunnah adalah sunnah, yang haram adalah haram. Tidah hanya itu, selain mengetahui hukum tiap perbuatan, seseorang dapat menunaikan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebaik-baiknya, karena didasari ilmu.”
Dengan demkian, dimanapun seorang muslim berada ia wajib mencari dan mengamalkan ilmu. Tidak mudah puas dengan sedikit ilmu. Ia harus selalu merasa haus. Ilmu merupakan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pentingnya mencari ilmu tercermin dalam analogi mengendarai kendaraan. Seseorang yang hendak mengendarai kendaraannya haruslah memiliki kecakapan, meliputi cakap dalam memahami masing-masing fungsi dalam kendaraan, mengetahui rambu-rambu lalu-lintas, sehingga bisa mengendarai dengan aman dan selamat. Aman untuk dirinya dan aman untuk orang lain. Tidak sampai menyelakakan diri sendiri lebih-lebih diri orang lain.
Demikian halnya dengan ilmu seputar amal ibadah. Ia wajib melengkapi diri dengan ‘pelindung’ yang namanya ilmu sehingga tidak salah dalam beramal, tidak salah dalam beribadah. Tanpa ilmu dikhawatirkan ia salah beribadah, salah dalam melaksanakan kewajiban. Kesalahan dalam melaksanakan hal-hal yang wajib sama dengan meninggalkan kewajiban. Tidak sah karena tidak dikerjakan sesuai aturan yang sudah ditentukan dalam Islam. Ketika seseorang hanya mengetahui bahwa salat dzuhur 4 takaat, ia salat tanpa tahu kapan pelaksanaannya. Ia terjerumus dalam kesalahan fatal. Ia laksankan salat dzuhur pukul 10 pagi, di luar ketentuan waktu yang ditetapkan.
Tanpa ilmu seseorang hanya menduga-duga dalam melakukan perbuatan. Ia menduga telah melakukan kebaikan padahal kemaksiatan. Ia menduga telah menjauhi kemaksiatan padahal ia masih berkubang di dalamnya. Contoh yang sering terjadi ketika seorang wanita tidak bisa membedakan antara darah haid dan istihadha. Hanya dengan dugaan telah keluar darah haidh padahal istihadhah, ia tidak salat, tidak puasa dan sebagainya. Sebaliknya, menduga darah istihadhah padahal haidh, ia salat, puasa, membaca al-Quran.
Karena itu, syariat yang telah diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasulullah harus dipelajari agar menjadi ilmu yang mendasari setiap perbuatan. Alasan usia sudah menua atau alasan sibuk tidak dapat menjadi pembenaran untuk tidak mencari ilmu. Selama hayat masih dikandung badan maka kewajiban mencari ilmu tetap melekat. Usia bukan halangan dalam mencari ilmu, sama halnya dengan kesibukan. Tidak ada alasan yang bisa menjadi alat membenarkan sikap seseorang untuk lalai menyari ilmu.
Bahaya Amal Tanpa Ilmu
Seseorang yang beribadah tanpa ilmu akan lebih banyak menuai mudharat daripada manfaat. Manfaatnya sedikit justru mudharatnya lebih banyak. Itulah kenyataan yang akan dihadapi oleh setiap pengamal tanpa ilmu. Nol besar. Tidak ada nilainya.
Nihil pahala dan keutamaan di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Oleh karenanya, jangan mencoba-coba beramal dengan ketidaktahuan. Sama halnya orang yang sakit meminum sembarang obat. Tidak cocok dengan satu obat beralih ke obat berikutnya. Hasilnya, bukan kesembuhan tapi malapetaka yang berujung maut.
Tidak sedikit seseorang yang memandang bahwa dirinya melakukan suatu ketaatan padahal sedang bermaksiat. Memandang suatu kemaksiatan bukan sebagai kemaksiatan. Dalam kasus Maulid, misalnya. Sebagian orang mengadakan kegiatan Maulid tidak sesuai dengan cara yang benar. Bermaulid tapi dilakukan dengan hura-hura, menghamburkan biaya dalam jumlah yang tidak wajar untuk membeli mercon, kembang api. Dalihnya untuk syiar.
Padahal di sekelilingnya masih banyak orang yang membutuhkan. Atau bermaulid tapi dengan dangdutan, campur laki dan perempuan. Bermaulid ada tata caranya. Bukan sesuka hati. Bukan dengan hawa nafsu sesuai keinginan diri sendiri. Inilah sedikit contoh yang salah dalam mengungkapkan mahabbah (kecintaan) kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Hal di atas terjadi karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak dibekali dengan ilmu. Akibatnya, menyangka telah berbuat kebajikan namun yang didapat justru sebaliknya. Berharap dapat syafaat tapi yang didapat justru ketidakrelaan atas apa yang sudah dikerjakan.
Alkisah, di negeri Maroko pernah hidup seorang ahli ibadah yang dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai orang shalih. Siang-malam ia isi dengan ibadah. Hari-harinya ia hiasi dengan kegiatan ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Suatu hari ia membeli seekor keledai betina. Anehnya keledai itu tidak ia gunakan sama sekali. Hal ini membuat seorang tetangganya diliputi rasa penasaran, “Tuan, mengapa keledainya tidak dimanfaatkan?” Dijawab oleh si ahli ibadah ini, “Memang, aku hanya memanfaatkannya untuk memuaskan nafsu birahiku.” Setelah diusut, ternyata si ahli ibadah ini betul-betul tidak tahu soal larangan keras menyetubuhi hewan. Ketika ia diberi tahu soal hukum menyetubuhi hewan, ia menangis sejadi-jadinya.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib memiliki ilmu. Syukur jika ilmu yang telah ia miliki bermanfaat bagi orang lain. Ia ajarkan dan sebarkan kepada sesamanya. Bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi umat. Dikatakan, “Barangsiapa memiliki ilmu, lalu ia amalkan dan ajarkan, ia akan dikenal oleh para penduduk langit.” Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:


يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah Subhanahu Wata’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Subhanahu Wata’ala Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mujadilah [58] : 11).
Abdullah bin Abbas RA mengatakan orang yang memiliki ilmu dibanding orang yang tidak memilikinya, perbandingannya 700 derajat. Derajat pertama ke derajat kedua menempuh perjalan 500 tahun lamanya.
Betapa mulia orang yang berilmu yang ilmunya bemanfaat. Di dunia dan di akhirat ia hidup mulia mendapat kedudukan terhormat di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakAllah Subhanahu Wata’ala yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. az-Zumar [39] : 9).
Bunyi ayat ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Ayat ini merupakan sindiran bahwa tidak ada kesamaan posisi orang yang berilmu dengan orang yang jahil. Wali songo yang telah wafat ribuan tahun silam masih seperti orang hidup. Peziarahnya banyak di setiap saat. Ini terjadi berkat ilmu yang mereka miliki. Memang sangat beda antara orang yang berilmu dengan yang tidak.
Karena itu, semangat mencari ilmu merupakan tanda kesuksesan. Mencari ilmu di sepanjang waktu. Tidak ada perasaan lelah. Selalu haus dalam mendulang ilmu dalam segala kondisi. Maka, mari kita siapkan anak-anak kita menjadi sosok berilmu. Cakap dalam membaca al-Quran, mengetahui tata cara ibadah yang sebenarnya, menghafal hadits, paham fiqih dan ilmu-ilmu agama lainnya. Sejak dini, buat program pengentasan kejahilan dari setiap anggota keluarga dalam urusan agama. Jadikan ilmu sebagai hal pertama di setiap langkah. Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Dia berikan pemahaman tentang urusan agamanya.” (HR. Bukhari-Muslim).*
 

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam- - -Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan sedangkan dalam islam ilmu adalah lawan kata bodoh/Jahil, sedang secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkaplah segala hakikat yang secara sempurna. Secara istilah Syar’i pengertian ilmu yaitu, ilmu yang sesuai dengan amal, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.


 

Menuntut ilmutidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
  • Hadits riwayat Ibnu Abdil Bar
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).
  • Penjelasan Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan para malaikat turut bergembira.

Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu, ibadah seseorang menjadi sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah saw. mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk memperoleh pengetahuan, perlu ada usaha. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah meminta umat Islam agar menuntut ilmu walaupun ke negeri Cina. Dianjurkannya memilih negeri Cina pada saat itu, karena kemungkinan peradaban Cina sudah maju.

Di lain hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia:

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”

Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang-orang yang menuntut ilmu karena senangnya. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi seseorang sehingga malaikat bangga dengannya.

komentar admin karena admin orang sunda jadi pake bahasa sunda..
"Kawajiban nuntut elmu teh di mimiti di ais nepi ka di pais.. " (kewajiban menuntut ilmu yaitu dari pertama di lahirkan sampai meninggal"

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam- - -Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan sedangkan dalam islam ilmu adalah lawan kata bodoh/Jahil, sedang secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkaplah segala hakikat yang secara sempurna. Secara istilah Syar’i pengertian ilmu yaitu, ilmu yang sesuai dengan amal, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.
Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
  • Hadits riwayat Ibnu Abdil Bar
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).
  • Penjelasan Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan para malaikat turut bergembira.

Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu, ibadah seseorang menjadi sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah saw. mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk memperoleh pengetahuan, perlu ada usaha. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah meminta umat Islam agar menuntut ilmu walaupun ke negeri Cina. Dianjurkannya memilih negeri Cina pada saat itu, karena kemungkinan peradaban Cina sudah maju.

Di lain hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia:

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”

Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang-orang yang menuntut ilmu karena senangnya. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi seseorang sehingga malaikat bangga dengannya.
- See more at: http://eduside.blogspot.com/2014/01/hadist-dan-hukum-menuntut-ilmu-ajaran-islam.html#sthash.DdTdjIuT.dpuf

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam- - -Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan sedangkan dalam islam ilmu adalah lawan kata bodoh/Jahil, sedang secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkaplah segala hakikat yang secara sempurna. Secara istilah Syar’i pengertian ilmu yaitu, ilmu yang sesuai dengan amal, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.
Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
  • Hadits riwayat Ibnu Abdil Bar
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).
  • Penjelasan Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan para malaikat turut bergembira.

Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu, ibadah seseorang menjadi sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah saw. mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk memperoleh pengetahuan, perlu ada usaha. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah meminta umat Islam agar menuntut ilmu walaupun ke negeri Cina. Dianjurkannya memilih negeri Cina pada saat itu, karena kemungkinan peradaban Cina sudah maju.

Di lain hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia:

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”

Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang-orang yang menuntut ilmu karena senangnya. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi seseorang sehingga malaikat bangga dengannya.
- See more at: http://eduside.blogspot.com/2014/01/hadist-dan-hukum-menuntut-ilmu-ajaran-islam.html#sthash.DdTdjIuT.dpuf

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam

Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu Pengetahuan Dalam Ajaran Islam- - -Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan sedangkan dalam islam ilmu adalah lawan kata bodoh/Jahil, sedang secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkaplah segala hakikat yang secara sempurna. Secara istilah Syar’i pengertian ilmu yaitu, ilmu yang sesuai dengan amal, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.
Hadist Dan Hukum Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu tidak hanya terbatas pada hal-hal ke akhiratan saja tetapi juga tentang keduniaan. Jelaslah kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat adalah ilmu. Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
  • Hadits riwayat Ibnu Abdil Bar
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).
  • Penjelasan Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan para malaikat turut bergembira.

Agama Islam sangat memperhatikan pendidikan untuk mencari ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan manusia bisa berkarya dan berprestasi serta dengan ilmu, ibadah seseorang menjadi sempurna. Begitu pentingnya ilmu, Rasulullah saw. mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk memperoleh pengetahuan, perlu ada usaha. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah meminta umat Islam agar menuntut ilmu walaupun ke negeri Cina. Dianjurkannya memilih negeri Cina pada saat itu, karena kemungkinan peradaban Cina sudah maju.

Di lain hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia:

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”

Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada orang-orang yang menuntut ilmu karena senangnya. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi seseorang sehingga malaikat bangga dengannya.
- See more at: http://eduside.blogspot.com/2014/01/hadist-dan-hukum-menuntut-ilmu-ajaran-islam.html#sthash.DdTdjIuT.dpuf
    Flag Counter